Nggak susah sih, kalau isinya omongan sehari-hari atau banyolan yang biasa kita buat. Masalahnya ini beda, gue harus menulis materi yang entah harus ngerangkum berapa jurnal untuk hadiah nilai yang cuma segitu *sorry agak matre nilai*
Selain tugas itu juga masih banyak tugas lain misalnya esai, makalah, sama mind-map rangkuman dari mata kuliah. Sebagai mahasiswa gue agak cupu sih kalo mengeluh sama tugas, tapi gue hanya mau menghela napas dengan menulis di blog ini. *Menghela napas*
Selain tugas itu juga masih banyak tugas lain misalnya esai, makalah, sama mind-map rangkuman dari mata kuliah. Sebagai mahasiswa gue agak cupu sih kalo mengeluh sama tugas, tapi gue hanya mau menghela napas dengan menulis di blog ini. *Menghela napas*
Solusi dari masalah takut gagal ini, tentu saja, adalah menunggu teman yang kadar kepintarannya ngalahin kadar kejayusan gue posting jawaban dan kita mencontoh bagaimana isi tulisan yang benar. Dengan cara itu biasanya kita bakal manggut-manggut dan membatin "oooh... gitu doang, toh." Tapi maksud dari omongan gue ini bukannya mau nyontek jawaban mereka, gue cuma pengen nyari inspirasi dan referensi aja dari mereka. Tanpa ada niatan -sama sekali- buat nyontek.
Tapi masalahnya lagi... apa kemudian kita yang mencari inspirasi tambah terinspirasi? Atau justru tambah terintimidasi dan ngegalau gara-gara tulisan orang lain bagus banget?
Semua orang yang terkenal pasti menganjurkan kita buat mencari referensi dari orang lain. Biasanya mereka mengakui bahwa dulu mendapat inspirasi setelah membaca atau melihat karya orang lain. Misalnya Suzanne Collins yang mendapat inspirasi menulis Trilogi 'The Hunger Games' setelah menonton reality show Amerika dan peperangan di Arab secara bersamaan.
Tapi itu khusus 'orang terkenal' yang batinnya udah mampu. Lah gimana kalau yang mencari referensi itu gue? Yang ada malah lambai-lambai tanganala Syahrino nggak kuat. Pasti yang muncul di pikiran kita begini, "anjrot bagus banget! apeslah gue nggak bakal sebagus dia," *kemudian nangis di bawah shower*.
Tapi itu khusus 'orang terkenal' yang batinnya udah mampu. Lah gimana kalau yang mencari referensi itu gue? Yang ada malah lambai-lambai tangan
Menurut gue, lebih baik kita mengunggah dulu postingan kita, baru kita lihat bagaimana teman kita menjawab. Meski nantinya ada yang agak ngehek dan bikin kita down, at least jawaban kita adalah real us dan orisinil karya sendiri, tanpa bisikan juga invasi dari orang sekitarmu.
Gue masih memegang pikiran bahwa karya sendiri lebih membanggakan daripada karya menyadur orang lain. Setidaknya kita sudah mencoba, hal apa lagi yang membuat kita sedih atas hasil akhirnya? Ya nilai tambah sih kalau hasil orisinil kita juga bagus banget. Nilai tambah.
Oiya, buat yang ingin tahu gimana tulisan gue yang agak nyerempet materi psikologi, bisa cek di Page "Hubungi gue". Atau lebih cepatnya di afiffj-psikologi14.web.unair.ac.id .
Itu dulu curhatan gue seputar tugas. Buat kalian yang masih SMA, terutama sudah kelas 3, bersiaplah menghadapi semua beban hayati ini *muahahaha*
Sampai jumpa! *self high five*
Itu dulu curhatan gue seputar tugas. Buat kalian yang masih SMA, terutama sudah kelas 3, bersiaplah menghadapi semua beban hayati ini *muahahaha*
Sampai jumpa! *self high five*
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon