#2. When Rain Becomes a Reminder



Hujan.

Surabaya lagi musim hujan.

Pertama kalinya Surabaya hujan itu gue seneng. Karena suhu Surabaya pas kemarau itu hell banget. Panas! Dengan turunnya hujan pertama itulah resmi dimulai suasana adem ria gue di Surabaya.

Tapi semakin ke belakang hujan turun setiap hari. Gue yang jalan kaki ke mana-mana jadi lumayan kesulitan gara-gara genangan air di trotoar. Maklumlah belum punya kendaraan pribadi.

Sayangnya, selain kesulitan yang di atas, gue juga jadi agak terbawa suasana kesendirian di kamar kost. Kalau ingat kebiasaan pas hujan di rumah Situbondo dulu, rasanya ada yang hilang dari kegiatan gue. Gue dulu biasa baca buku-entah-apa di kamar, bikin cemilan panas sendiri, atau ngumpul bareng keluarga. Di sini sepi.

Dulu pas pertama kali kost di Surabaya, gue yakin banget kalo gue nggak bakal mudah kangen atau sering inget sama keluarga di rumah. Gue pasti bisa survive dan fokus kuliah. Tapi kenyataannya salah besar. I can't live with no memory lies behind and supporting.

"Surabaya saat musim hujan itu romantis," kata teman-asli-Surabaya gue. Mungkin, sih. Entah sudah diuji ITB-IPB atau belum, gue mengakui bahwa, 

Surabaya saat musim hujan itu Romantis. Bisa mengingatkan kita akan hal yang sebelumnya tak pernah kita bayangkan.

Hujan mungkin bukan cuma penyejuk suhu, tapi juga pengingat. Pengingat kalau pas kita sendiri, mau seangkuh apapun kita mengaku mandiri, pasti ada saatnya bakal kangen sama orang tua, kangen sama suasana bareng teman, atau kangen memori-memori saat bersama dia.
Previous
Next Post »